Antara Ahok dan Claudio Ranieri

Editorial

Ahok, tidak ada yang bisa menyangkal nama tersebut sangat fenomenal, baik dari sepak-terjang kepribadiannya maupun dari kinerjanya yang sudah berhasil dia buktikan selama menjabat sebagai Gubernur DKI. Nama Ahok menjadi dikenal pada saat Pilkada DKI 2012 lalu saat bersama pasangan Joko Widodo, yang saat ini menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia ke-7.

Sejarah panjang Ahok yang minoritas dalam perpolitikan Indonesia sudah banyak diulas media maupun dari wawancara langsung dengan Basuki Tjahaja Purnama (BTP) jadi tidak akan diulas disini.

Claudio Ranieri adalah sosok yang fenomenal dalam sejarah sepakbola Liga Premier Inggris terutama pada musim 2015-2016 yang lalu. Dengan tangan dinginnya sebuah tim yang tidak diperhitungkan sama sekali membuat sejarah baru sehingga mampu mengalahkan tim-tim besar dan meraih juara Liga Premier Inggris pertama kali dalam sejarah berdirinya klub, yaitu Leicester City.

Mereka adalah termasuk orang yang fenomenal dalam sebuah tindakan perubahan yang drastis yang dirasakan banyak orang, disaksikan banyak orang sehingga menjadi sebuah perbincangan. Bahkan, tidak sedikit yang meragukan kemampuan dua orang tersebut pada awal menjabat posisi mereka masing-masing.

Ahok atau dikenal Basuki Tjahaja Purnama adalah sosok yang tegas, pada saat pasangannya yaitu Gubernur DKI Joko Widodo mencalonkan menjadi Presiden dan berhasil memenangi Pemilu 2014 maka tugas Gubernur dilanjutkan oleh wakilnya yaitu Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

ahok-gubernur-dki

Dalam segala tindakan yang diambil, Ahok selalu mengutamakan apa yang namanya keadilan sosial, prinsip yang mulia untuk mengubah semerawutnya birokrasi dan pelayanan di ibukota. Dimulai dengan sering adanya pergantian posisi PNS baik dipecat atau dipindahkan, Ahok menanamkan sebuah nilai, prestasi lah yang berbicara. Jika bekerja bagus maka bisa diangkat ke posisi lebih baik, tapi jika bekerja dengan setengah hati maka ancaman pecat dan dipindahkan tidak segan-segan dilakukan.

Claudio Ranieri adalah sosok yang selalu berhasil dalam kepelatihannya, berdasarkan dari sumber wikipedia, ambil beberapa contoh klub seperti Chelsea, Parma, Juventus, Intermilan, AS Monaco dan Leicester City, semua dibangun dengan pondasi yang kuat, meskipun saat dia sudah tidak menjadi manajer tim, tetapi pondasi yang sudah dibangunnya akan menuai kesuksesan di musim berikutnya.

Hal ini juga dibuktikan dengan pengakuan dari Jose Mourinho dalam sebuah wawancara bahwa saat Jose Mourinho membawa Chelsea juara Liga Premier Inggris di musim 2004-2005 adalah berkat pondasi dari manajer sebelumnya yang telah dibangun kokoh yaitu Claudio Ranieri.

Mereka berdua mempunyai visi dan misi yang terlihat jelas akan apa yang hendak mereka lakukan. Meskipun hasil belum terlihat sekarang, tetapi akan dirasakan di kemudian hari. Visi yang jelas tidak semua orang bisa menerima seperti Ahok pada saat menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI saat mendampingi Joko Widodo, perubahan birokrasi langsung dilakukan, dimana pejabat itu harusnya mempunyai sikap melayani sehingga apa yang diterapkan oleh Ahok dalam birokrasi dibantu dengan blusukan dari Joko Widodo menghasilkan Jakarta seperti sekarang ini dimana dalam pelayanan di Kelurahan, Kecamatan semua sudah terlihat profesional seperti saat mau ke bank.

Leicester City adalah sebuah klub medioker dalam arti ya biasa-biasa aja, tidak ada yang melirik atau bahkan menjadi sebuah trending topic dalam berbagai macam media. Ya itulah Leicester City. Kedatangan Ranieri memberikan tim ini sebuah mimpi yang indah dan baik disiplin, teguran, dan arahan semua diterapkan dengan sempurna menjadikan Leicester City menjadi sebuah tim yang mampu menjuarai salah satu liga yang paling bergengsi di dunia.

leicester-city-menang

Para pemain Leicester City yang awalnya “no body” menjadi sosok selebritis seperti Jamie Vardy yang bahkan menjadi salah satu topskor di Liga Premier Inggris musim 2015-2016 dibawah Harry Kane dari Tottenham. Cara dan resep apa mampu membuat sebuah tim yang bukan apa-apa menjadi juara ? Tidak ada seorang pun yang bisa tahu pasti, tidak ada sebuah ilmu yang bisa menjadikan sesuatu mencapai kesuksesan yang pasti, tetapi ada satu hal yang mutlak yaitu kepercayaan.

Ya, itulah yang diterapkan Ahok saat membangun sistem birokrasi yang baik, yaitu memberikan kepercayaan kepada mereka yang belum dapat kesempatan tetapi mempunyai potensi untuk berkembang lebih baik. Bahkan seorang camat diangkat menjadi kepala dinas dan berhasil menunjukkan hasil yang baik.

Simak :

SITUS POKER ONLINE TERPERCAYA

Kepercayaan adalah sebuah nilai yang tidak bisa diukur, belum pernah ada sebuah ilmu mengukur rasa sebuah kepercayaan. Itulah yang harus dijaga seperti Ahok, meskipun saat ini sedang berhadapan dengan berbagai masalah akibat dari “kekurangan” nya dalam menjaga “mulut” tetapi kepercayaan rakyat Jakarta terhadapnya masih ada yaitu berhasil mengumpulkan 43% suara pemilih dalam Pilkada DKI yang baru saja dilangsungkan dan berhasil ke putaran kedua.

Ahok bukan saja menjaga kepercayaan dari rakyat Jakarta saat bekerja, tetapi sebagai pemimpin dia juga menjaga kepercayaan dari bawahannya, contoh, memberikan jaminan UMR yang layak serta fasilitas KIJ, KIS dan gratis Transjakarta untuk pasukan oranye, memberikan tunjangan kerja yang termasuk besar disesuaikan dengan prestasi kerja kepada bawahannya. Semua ini mengubah cara dalam pelayanan dan birokrasi di Jakarta sehingga ada harapan bahwa Jakarta bisa bersih dari korupsi.

Ranieri juga demikian, kepercayaan yang diberikan kepadanya membuat dia bekerja dengan keras dan membuat perombakan, tetapi yang paling nyata adalah kepercayaan pemain kepadanya-lah yang memberikan Ranieri bisa mengarahkan segalanya dengan baik sehingga berhasil memperoleh hasil yang maksimal yaitu menjuarai Liga Premier Inggris 2015-2016.

Kondisi berbeda saat mulai memasuki musim kedua dibawah kepemimpinannya, pemain Leicester seperti kehilangan kepercayaan terhadapnya, hasil yang buruk yang terus melanda Leicester City membuat rasa kepercayaan itu terus memudar yang berakibat Manajer of The Year 2016 ini harus angkat kaki dari Leicester City. Hal ini apakah kesalahan Ranieri semata ? Tidak, semua adalah bermula dari kepercayaan. Saat kepercayaan itu memudar, visi yang indah dan bagus tidak akan bisa direalisasikan.

claudio-ranieri-leicester-city

Claudio Ranieri mungkin saja menjadi sosok yang saat ini kecewa dengan apa yang dia alami tetapi sejarah yang telah dia torehkan dalam klub Leicester City tidak akan hilang sampai kapan pun. Pemain yang pernah dibawah asuhannya tidak akan menyangkal bahwa mimpi indah itu pernah ada pertama kali bersama Ranieri.

simak

JADWAL BOLA MALAM INI

Mereka berdua melakukan hal yang pada awalnya dianggap mustahil dan berhasil membuktikan bahwa dengan adanya kepercayaan, sebuah mimpi yang indah bisa terwujud. Mereka melakukan perubahan yang disaksikan, dirasakan oleh banyak orang.

Apakah setelah ditinggal Ranieri dengan posisi seperti sekarang, Leicester City bakalan hancur ? Tidak ada yang tahu pasti, semua berpulang kepada pemain, asisten pelatih, pelatih, dewan komisaris dari Leicester City tersebut termasuk juga para fans apakah mereka mempercayai manajer baru yang dipilih ? Apakah manajer yang baru bisa mampu mengemban amanah kepercayaan yang diberikan ?

Jakarta tidak seperti klub sepakbola Leicester City, Jakarta jauh lebih komplex dari sebuah klub, butuh manajerial yang tangguh, butuh transparansi, butuh yang bebas dari godaan korupsi. Semua terpulang kembali kepada rakyat Jakarta sendiri, apakah akan tetap memberikan kepercayaan kepada Basuki Tjahaja Purnama untuk melanjutkan kepemimpinan lima tahun kedepan ? Atau sudah saatnya tongkat pimpinan diserahkan ke pemimpin baru yaitu Anies Baswedan – Sandiaga Uno ?

Anda lebih tahu.

Summary
Review Date
Reviewed Item
Antara Ahok dan Claudio Ranieri
Author Rating
51star1star1star1star1star